Tampilkan postingan dengan label Kisah-Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah-Kisah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Mei 2012

MiskiN CinTa

Masyarakat kini miskin cinta. Cinta mereka hanya terbatas pada orang, kaum dan benda tertentu. Bila disebut pemuda, maka dia semestinya seorang yang akan mencintai gadis. Bila disebut orang kaya, dia perlu mencintai harta. Maka setiap haluan hidup di tujukan pada yang tercinta.

Bila kasih sayang 100% untuk kekasihnya, hartanya, dan jawatannya, orang lain tidak lagi penting dalam hidup. Cintailah semua orang, kerana cinta itu tidak terhad.. Bila saja berhadapan dengan orang yang dicintai, orang lain dilihatnya seperti batu dan tunggul. Bila diminta pertolongan, sedikit pun tidak diendahkan.

Namun untuk terjun ke lautan api bagi membuktikan cinta pada kekasihnya sanggup diredahi . Lalu bagaimana sikap tolong menolong, kasih mengasihi terhadap sadara-saudara yang lain dapat diamalkan jika segala perbuatan baik hanya untuk orang tertentu dan hanya di dasari oleh material semata-mata.

Kerana itu manusia kini miskin cinta. Cinta itu terhad untuk harta, jawatan, wanita, dan kaum kerabat. Kisah peperangan di Negara jiran tidak dihiraukan kerana; cinta hanya terhadap Negara sendiri dan semangat perkauman yang menebal.

Perompak berjaya melarikan beg tangan seorang mak cik dan kita melihat dari jauh kerana; itu bukan makcik kita atau wajah mak cik itu tidak seiras Siti Nurhaliza.

Ingatlah ketika jenazah kita disuatu hari nanti hendak dikebumikan. Siapa yang membantu. Saudara kita yang tidak pernah kita kasihi di dunia dahulu yang menurunkan kita ke liang lahad.

Dahulu kita sibuk menghabiskan masa dengan mengira nilai wang emas, sibuk dengan kekasih dari awal pagi hingga malam. Lalu, dimanakah benda yang kita cintai itu pada waktu ini. Pangkat yang kita cintai kini dijawat orang lain. Harta yang diusahakan siang dan malam kini menjadi warisan untuk anak-anak.

Ingatlah Allah tidak pernah membataskan sifat arRahmanya pada manusia tertentu. Nabi saw juga tidak datang hanya untuk sebuah kaum atau bangsa sahaja.

Maka bersahabatlah dan sebarkanlah silatarrahim kepada semua manusia. Jangan kerana cinta harta, pangkat, dan kekasih, kita tidak berpeluang untuk mencintai yang lainnya.

aKhwat-ikHwan SejaTi

IKHWAN SEJATI 
Seorang remaja pria bertanya pada ibunya, ”Ibu, ceritakan padaku tentang ikhwan sejati!”

Sang Ibu tersenyum dan menjawab…
Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya.
  Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran.
 
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati di tempat bekerja, tetapi bagaimana dia dihormati di dalam rumah.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan.
  Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati yang ada dibalik itu.
 
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja, tetapi komitmennya terhadap akhwat yang dicintainya.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan, tetapi dari tabahnya dia mengahdapi lika-liku kehidupan.
 
Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca Al-Quran, tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca.
Setelah itu, sang remaja pria kembali bertanya. Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, Ibu ?
Sang Ibu memberinya buku dan berkata…
Pelajari tentang dia. Ia pun mengambil buku itu,
MUHAMMAD, judul buku yang tertulis di buku itu.

AKHWAT SEJATI
Seorang gadis kecil bertanya pada ayahnya, “Abi ceritakan padaku tentang akhwat sejati?”
Sang ayah pun menoleh sambil kemudian tersenyum.
Anakku…

Seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dilihat dari kecantikan hati yang ada di baliknya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia berikan tetapi dari, keikhlasan ia memberikan kebaikan itu.
 
Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan.
Akhwat sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara.
Sang ayah diam sejenak sembari melihat ke arah putrinya.“Lantas apa lagi Abi?” sahut putrinya.
Ketahuilah putriku…
Akhwat sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya.

Akhwat sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan, tetapi dilihat dari kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani, tetapi dilihat dari sejauhmana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur.
Dan ingatlah…
Akhwat sejati bukan dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi dilihat dari sejauhmana ia bisa menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul.
Setelah itu sang anak kembali bertanya,
“Siapakah yang dapat menjadi kriteria seperti itu, Abi?” Sang ayah memberikannya sebuah buku dan berkata, “Pelajarilah mereka!”  
Sang anakpun mengambil buku itu dan terlihatlah sebuah tulisan “Istri Rasulullah”. (Muslimah Sholihah) 

Akhwat Sejati
Akhwat sejati tidak dilihat dari jilbabnya yang anggun, tetapi dilihat dari kedewasaannya dalam bersikap.

Akhwat sejati tidak dilihat dari retorikanya ketika aksi, tetapi dilihat dari kebijaksanaannya dalam mengambil keputusan.

Akhwat sejati tidak dilihat dari banyaknya ia berorganisasi, tetapi sebesar apa tanggungjawabnya dalam menjalankan amanah.

Akhwat sejati tidak dilihat dari kehadirannya dalam syuro', tetapi dilihat dari kontribusinya dalam mencari solusi dari suatu permasalahan.

Akhwat sejati tidak dilihat dari tasnya yang selalu membawa Al - Qur'an, tetapi dilihat dari hafalan dan pemahamannya akan kandungan Al - Qur'an tersebut.

Akhwat sejati tidak dilihat dari aktivitasnya yang seabrek, tetapi bagaimana ia mampu mengoptimalisasi waktu dengan baik.

Akhwat sejati tidak dilihat dari IP-nya yang cumlaude, tetapi bagaimana ia mengajarkan ilmunya pada umat.

Akhwat sejati tidak dilihat dari tundukan matanya ketika interaksi, tetapi bagaimana ia mampu membentengi hati.

Akhwat sejati tidak dilihat dari partisipasinya dalam menjalankan kegiatan, tetapi dilihat dari keikhlasannya dalam bekerja.

Akhwat sejati tidak dilihat dari sholatnya yang lama, tetapi dilihat dari kedekatannya pada Robb di luar aktivitas sholatnya.

Akhwat sejati tidak dilihat kasih sayangnya pada orang tua dan teman - teman, tetapi dilihat dari besarnya kekuatan cinta pada Ar - Rahman Ar - Rahiim.

Akhwat sejati tidak dilihat dari rutinitas dhuha dan tahajjudnya, tetapi sebanyak apa tetesan air mata penyesalan yang jatuh ketika sujud

PERJAMUAN MALAIKAT


Cerpen Bagus !!

Arafah, 9 Dzulhijah 1427H
Kurebahkan tubuhku di atas ambal sembari melafalzkan kalimat-kalimat thayibah. Aku ingin larut dalam kenikmatan dzikir, sehingga keganasan sel-sel tubuhku yang menuntut jatah kalori, berhasil kutaklukan. Namun, ternyata derajat kenikmatan yang kurasakan, masih juga menyisakan pemberontakan.
Hazbunallahu wa ni'mal wakiil, ni'mal maula wa ni'man-nashiir…
"Lihatlah, Nak!" Eyang Shobron, lelaki sepuh itu menyibak kain penutup tenda. "Itu adalah Jabal Rahman!" Ia menunjuk bukit yang menjadi salah satu batas Padang Arafah. "Itu adalah tempat pertemuan antara Nabi Adam dan Hawa setelah mereka dikeluarkan dari Surga."
Aku bangkit, mendongakkan kepala, menuju ke arah yang ditunjukkan oleh Eyang Shobron. Jabal Rahman yang kecokelatan, berdiri tegak di atas hamparan padang pasir. Awan hitam bergumpal-gumpal di atasnya, sementara angin kencang bermuatan butiran-butiran pasir berkali-kali menerjang tenda yang kami tempati.
Namun sekujur tubuh yang terasa lemas tak membuatku mampu berlama-lama berdiri. Aku pun hanya bisa menghela napas, berharap dengan helaan itu, lemak-lemak dalam tubuhku terbakar, dan aku mendapatkan tenaga baru yang mampu menyangga tulang belulangku.
"Lapaaar…," rintih seorang lelaki tua yang berbaring tak jauh dariku. Sebuah tasbih tergeletak di atas dadanya. "Ya Allah, aku lapar…"
"Sabar, Saudaraku!" Eyang Shobron mendekati lelaki yang mungkin seumuran dengannya itu. Bedanya, seperti yang menimpaku, lelaki itu terlihat lemas tanpa daya, sementara Eyang Shobron masih tampak bugar. Sepasang matanya yang dalam juga tak menyiratkan keletihan. Inilah yang membuatku diamuk cemburu. Aku masih berusia awal 20-an. Semestinya, aku jauh lebih gagah perkasa di bandingkan sosoknya yang kurus kering itu. "Lapar ini akan membuat kualitas dzikir kita semakin baik. Rasulullah bersabda, al hajju Arofah. Inti haji itu adalah Arafah. Dan sekarang, kita berada di Padang Arafah. Kesabaran atas apa yang Allah ujikan kepada kita, akan membuat haji kita semakin bermakna…"
Aku tercenung. Rasa-rasanya, kesombongan saat melangkah menuju pesawat menuju Jeddah, telah tergerus menjadi serpihan debu dan bercampur dengan pasir padang Arofah. Saat itu, aku membanggakan diriku yang merupakan calon haji termuda, baru berusia 21 tahun dan memiliki fisik yang sangat prima. Bayangkan, aku adalah bintang sepak bola di kampusku. Aku akan menjadi peserta haji paling bersemangat. Nyatanya…?
Hanya karena tak mendapat jatah ransum selama 2 hari, aku nyaris ambruk. Aku bahkan kalah dengan Eyang Shobron yang masih bertahan dalam kekusyukan dzikir saat wukuf di Arofah ini. Masih terlontar dari mulutku kalimat-kalimat menghujat pihak yang semestinya bertanggungjawab terhadap musibah ini.
"Ya Allah… saya lapaaar!" teriak jamaah yang lain, juga seorang lelaki tua. Di dalam tenda ini, lebih dari separuh adalah para manula.
"Saya juga lapar. Rasanya, saya tak kuat lagi…" rintih seorang manula yang lain. Ia bernama Eyang Jarwo. Sejak berada di Madinah, ia telah menjadi pasien rumah sakit. Saat wukuf di Arofah, yang merupakan inti ibadah haji, semua jamaah, baik sehat maupun sakit, memang harus mengikutinya. "Saya sudah pasrah jika Allah memanggil saya di sini. Mungkin kelaparan ini adalah teguran Allah kepada saya. Saat terjadi bencana tsunami di Aceh, gempa di Yogya, serta musibah-musibah lain, saya tidak pernah serius mengucurkan bantuan, padahal saya memiliki banyak harta. Sekarang, dalam keadaan seperti ini, harta sungguh tak mampu menolong saya…"
Eyang Shobron memandangi sosok Eyang Jarwo dengan mata berkaca-kaca. "Sabar, saya akan keluar sebentar. Mungkin ada jamaah negeri lain yang mau menyumbangkan makanan untuk kita…"
"Tidak, Eyang!" aku merangsek, mendekati Eyang Shobron. Allah, jika lelaki tua itu memang masih bertahan, itu semata karena ia memiliki tingkat kenikmatan dzikir yang mampu mengusir rasa lapar itu. Akan tetapi, keadaan fisik lelaki tua itu, mungkin lebih payah dibandingkan denganku. Berkali-kali aku melihat ia berjalan terhuyung-huyung, keluar dari tenda dan memandangi Jabal Rahman dengan air mata bercucuran. "Biar saya saja yang keluar. Saya masih kuat. Saya akan mencarikan makanan untuk Eyang Jarwo dan Eyang-eyang yang lain."
"Kita bersama-sama keluar, Nak!" Eyang Shobron tersenyum.

* * *

Langkahku terasa berat. Berkali-kali aku harus berhenti untuk menghela napas panjang-panjang. Namun, angin kencang bercampur pasir yang sebagian masuk ke hidung, membuat saluran pernapasanku terasa perih.
"Lapar?" seorang lelaki berbaju putih, kontras dengan kulitnya yang sehitam arang, menyodorkan sebutir apel merah. Air liurku menitik.
"Halal!" katanya.
Aku mengangguk. Kuterima apel itu dan kumasukkan ke tasku. Ia tersenyum, memperlihatkan sederetan gigi putihnya yang cemerlang. Air mataku menetes. Selama beberapa hari dalam proses ibadah haji, aku begitu membenci orang-orang berkulit hitam yang kunilai sangat kasar, tak tahu aturan apalagi sopan-santun. Ketika orang-orang dari bangsa Bilal itu lewat, maka orang-orang Melayu seperti kami, harus menyingkir jika tidak mau bertabrakan dengan badannya yang sebesar bulldozer. Belum lagi bau tubuh mereka yang teramat menyengat, membuat tak betah berlama-lama di dekatnya.
"Shodaqoh… shodaqoh! Nasi… halal!" tiba-tiba terdengar suara orang berteriak menggunakan pengeras suara. Namun, belum juga aku melangkah untuk mendekat, kulihat ribuan manusia berlari mendekati sebuah truk yang berisi tumpukan kardus makanan. Ya Rabbi… aku tercekat. Lautan manusia yang lapar itu, tampak begitu liar. Mereka saling sikut, saling dorong, saling jambak. Sebuah bogem mentah menyambar keningku ketika aku berusaha untuk mendekat. Terasa pening. Aku pun memilih untuk menyingkir, menjauhi kerumunan itu.
"Jangan lewat batas padang Arofah!" kulihat Eyang Shobron berteriak-teriak. "Jangan melewati batas. Haji kalian bisa batal! Jangan lewat batas!!!"
Lelaki yang mengasuh sebuah pondok pesantren di Jawa Tengah itu pernah bercerita, bahwa jika jamaah haji keluar dari batas padang Arofah, maka hajinya bisa batal. Akan tetapi, orang-orang yang lapar itu tak menghiraukan teriakan Eyang Shobron. Entah karena ketidakmengertian, ketidaksadaran, atau ketidakpedulian. Mungki sekotak nasi lebih berharga dibanding kesempurnaan beribadah haji.
Maka, aku pun menyaksikan ribuan manusia yang telah kehilangan kemanusiaannya. Ketika bala kelaparan menimpuk jiwa-jiwa itu, naluri serigala itu pun muncul dengan spontan. Kotak-kotak makanan itu saling diperebutkan, Sebagian rusak. Nasi-nasi dan lauk yang berada di dalamnya berhamburan mengotori tanah Padang Arofah.
"Nak, ini satu buatmu!" seorang lelaki berkopiah putih menyerahkan sebuah kotak makanan kepadaku. Aku mengucapkan terimakasih kepadanya. Namun, belum ada satu menit kotak itu berada di tanganku, seorang lelaki berkumis tebal mendadak merebutnya. Hampir saja aku berteriak jika nasehat Eyang Shobron tak segera terngiang di kupingku.
"Jagalah agar kau tidak sampai marah di ibadah wukuf ini!"
Aku pun hanya bisa menatap sosok itu dengan air mata mengucur deras. Hatiku semakin sakit, ketika melihat di tangan lelaki itu ternyata telah terjinjing sekitar 6 kotak makanan. Ia telah memiliki 6 kotak, mengapa masih juga merebut punyaku. Padahal, kotak ini akan kuberikan kepada Eyang Jarwo yang kondisi kesehatannya telah semakin payah.
Hanya sekitar seperempat jam peristiwa perebutan shodaqoh itu terpampang di depan mataku. Setelah itu, suasana kembali seperti semula. Yang tersisa adalah kardus-kardus rusak dengan nasi dan lauk yang berceceran.
"Nak, ini rezeki untuk kita!" Eyang Shobron tersenyum. Lalu ia menunduk. Ia mengambili nasi-nasi dan lauk yang masih bersih dan ia kumpulkan dalam kardus kosong. Isakku semakin keras. Namun, tanpa komentar, aku pun mengikuti langkah lelaki tua itu. Berpuluh-puluh, beratus-ratus bahkan mungkin beribu-ribu—karena ada jutaan manusia di Padang Arofah—pasang mata jamaah haji dari bangsa lain yang kebetulan melihat tragedi itu tampak tak mampu menyembunyikan perasaan harunya.
Namun, aku tak menghiraukan rasa malu yang sesaat menyergap. Terus saja aku mengumpulkan nasi dan lauk yang berserakan di atas tanah itu, yang ternyata bermakna sangat luar biasa bagi para jamaah di tendaku. Mereka menyambut kami sebagaimana menyambut para pahlawan. Sayang, nasi yang kami kumpulkan ternyata terlalu sedikit untuk mencukupi kebutuhan para penghuni tenda.
"Nak, kenapa kau tak makan?" tanya Eyang Shobron.
"Eyang sendiri, kenapa tak makan?" aku balik bertanya. Kami pun sama-sama tersenyum pahit.
"Ikhlaskan semuanya Nak, semoga malaikatlah yang nanti akan menjamu kita."
Mendadak aku teringat pada sebutir apel pemberian lelaki negro itu. Aku pun membuka tasku. "Kita bagi berdua, Eyang. Semoga bisa mengobati rasa lapar kita."
Aku membelah apel itu dengan pisau lipatku. Namun, belum juga aku memasukkan ke mulut, pintu tenda kami mendadak terbuka. Seorang kakek dengan tubuh gemetar memandangi kami.
"Istri saya sakit keras. Ia lapar, apakah anda memiliki makanan?"
Kutatap Eyang Shobron. Beliau mengangguk. Aku pun menyerahkan sebagian apel bagianku kepada kakek itu. Lelaki sepuh itu pun pergi, kembali ke tendanya.
"Ini, kau saja yang makan, Nak Faizal!" Eyang Shobron menyodorkan apel di tangannya.
"Tidak, Eyang! Itu milik eyang."
"Begini saja," Eyang Shobron meraih pisau lipat di tanganku dan membelah separuh apel di tangannya menjadi 2. Kami pun memakannya dengan air mata bercucuran. Bayangkan! Faizal Mubarok, adalah anak seorang pengusaha kaya raya di kota Surakarta yang tak pernah kekurangan apapun. Namun kali ini harus puas hanya dengan seperempat buah apel.

* * *


Muzdalifah, 10 Dzulhijjah 1427
Hawa malam di padang mahsyar ini begitu menusuk tulang. Aku merapatkan baju putih yang aku kenakan, sembari mengumpulkan batu-batu yang akan digunakan untuk melempar jumrah di Mina. Seperti tremor, sepasang tanganku bergetar karena dingin sekaligus lapar. 2 hari 2 malam, hanya ada seperempat buah apel dan beberapa teguk air yang masuk ke dalam lambungku. Dan hingga detik ini, jatah ransum yang mestinya kami dapatkan, ternyata tak juga datang.
"Nak, ganjallah perutmu dengan batu, itulah yang dilakukan Rasulullah ketika tengah menderita kelaparan," kata Eyang Shobron yang kubalas dengan senyum kecut. Tanpa beliau minta, aku memang telah menyumpal perutku, bukan dengan batu, namun dengan sebuah buku tebal yang kutekuk menjadi 2.
Setelah batu yang kukumpulkan kurasa telah cukup, aku kembali ke tenda. Kurebahkan tubuhku di atas ambal, dan kucoba memejamkan mata.
 

* * *

Tiba-tiba, sesosok tubuh tinggi besar berbaju serba putih, dengan raut wajah yang begitu menawan, membangunkanku.
"Akh Faizal, marilah ikut denganku?" tanya lelaki tampan itu.
Aku tertegun. Lelaki itu tak aku kenal sebelumnya. Namun kewibawaan yang terpancar begitu hebat, membuat aku tak hendak menolak. Bergegas aku bangkit. Aku tak mampu mengeluarkan sekecap pun suara. Hanya saja, langkahku terasa sangat ringan ketika mengikuti laju lelaki itu.
Ternyata, si tampan itu membawaku ke sebuah tenda yang luas. Sebuah permadani indah, yang baru pernah kulihat saat itu, terbentang. Dan yang membuat sepasang mataku terbelalak, adalah benda-benda yang tertata rapi di atas meja bundar. Ada semangkok besar nasi, piring berisi ayam panggang utuh, nampan berisi ikan kakap balado kesukaanku, bermacam buah-buahan, sup jagung manis, serta bergelas-gelas minuman segar.
"Silahkan dimakan, Akh Faizal. Semua ini, halal untukmu."
Aku terpaku dalam selaksa ketakjuban. Namun, aku tak menyia-nyiakan kesempatan yang dihadangkan lelaki tampan itu di depan mataku. Aku makan sepuas-puasnya. Rasa lapar yang berhari-hari membelitku, seakan sirna, tanpa bekas.

* * *
 

"Nak Faizal, bangun Nak!" suara Eyang Jarwo membuatku tersadar. Ya Allah, ternyata aku hanya bermimpi. Mimpi yang sangat indah. Kuraba perutku, Masya Allah… rasa lapar itu benar-benar telah hilang.
"Mas Shobron Nak… Mas Shobron…" ucapan Eyang Jarwo terdengar panik.
"Kenapa dengan Eyang Shobron?"
"Dia… tak bernapas lagi!"
Aku terperanjat dan segera melompat menuju tempat lelaki tua itu tergeletak.
"Satu jam yang lalu, saya bangunkan Mas Shobron. Ia terbangun, namun hanya sebentar. Ia bilang, katanya ia tengah dijamu malaikat dengan makanan-makanan yang lezat. Lalu ia tidur lagi… dan… sekarang ia tak bernapas lagi."
Kuperiksa detak jantung, pernapasan dan pupil mata Eyang Shobron. Tubuhku seakan menegang ketika kupastikan bahwa lelaki tua itu memang telah berpindah alam. Ada senyum manis tersungging di bibirnya, membuat sekujur tubuhku terasa merinding. Ya, dia tidak mati, ia tetap hidup dan diberi rizki oleh Illahi Rabbi, dalam Surga-Nya yang tinggi.

Rabu, 04 Januari 2012

KUPINANG ENGKAU DALAM MIMPI


KUPINANG ENGKAU DALAM MIMPI





“David, kita harus mensikapi persoalan ini secara dewasa dong, kita jangan mengedepankan emosi, berusahalah berfikir positif dan lapang dada!” kata sepupuku Mujahid Helmi, berupaya menjernihkan suasana. Kata-katanya kuanggap angin lalu, aku diam seribu bahasa, kututup rapat mulutku, sambil menggigit bibir bagian bawah. Kedua tanganku meraba kening, aku menundukan kepala. Dengan tatapan kosong memandang kedua ujung jemari kakiku. Pikiranku terbang entah kemana. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Kemudian, tidak berapa lama sepupuku kembali menasehatiku :

“David, yakinlah, mungkin ini yang terbaik bagi kita. Oke lah kita punya rencana, tapi  Allah juga punya rencana  untuk kita!”

“Udahlah mi, aku kagak butuh khutbahmu!”  balasku dengan emosi. Detak jantungku semakin kencang. Terasa tanganku bergetar, aku marah kepadanya sebab aku kesal, akibat dari kelalaiannya, tiket pesawatku hilang, sehingga nasib acara khitbahku menjadi tidak jelas. Hatiku juga mengutuk orang Mesir yang mencuri tiket pesawatku saat sepupuku mengambil wudlu didalam mesjid.

Aku lihat sepupuku menjadi diam, aku dan dia terhanyut pada arus pikiran masing-masing.

“Kriiiiingg … !” tiba-tiba suara telepon memecahkan suasana. Aku tidak beranjak untuk mengangkatnya, beberapa kali telepon itu berbunyi, akhirnya sepupuku melangkahkan kaki menuju tempat telepon.

“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, betul, ya, ada!” terdengar ditelingaku dia menjawab lawan bicaranya. Setelah itu Mujahid menoleh kepadaku sambil berseru:

“David, nih ada telepon untukmu!”

“Bilang saya tidak ada, saya tidak mau diganggu!”  jawabku dengan cuek dan ketus.

“Tapi ini penting lho, dari orang tuamu di Indonesia!”

Mendengar orang tuaku ia sebut-sebut, aku langsung bangkit. Kuterima gagang telepon yang di sodorkannya kepadaku, lalu aku berkata:

“Assalamu’alaikum, ini bapak ya, bagaimana khabar keluarga di Bandung?”

Ada sedikit lega dihatiku saat orang tuaku mengatakan bahwa mereka sehat wal afiah. Setelah itu diujung telepon sana orang tuaku menjelaskan kepadaku:

“David, Alhamdulillah, persiapan untuk acara khitbahmu sudah beres. Insya Allah waktunya lima hari lagi dan tempatnya di Hotel Savoi Homann!”

Aku seperti di sambar petir disiang bolong. Apa tidak salah orang tuaku melakukan hal itu. Hatiku kecilku menolak. Ajaran Islam tidak mengharuskan seperti itu, kecuali walimatul Ursy atau pernikahan. Ini sebuah pemubadziran dan terkesan mencari prestise. Aku tercenung, lidahku terasa kelu untuk mengatakan ketidak setujuan terhadap orang tua. Satu sisi aku harus mencegah acara seperti itu, disisi lain aku tidak ingin orang tuaku tersinggung dan kecewa. Aku terjebak dalam jurang simalakama. Terlintas dalam benakku tiket pesawatku yang hilang. Dengan hati-hati aku berkata :

“Bapak, sebelumnya David mohon maaf, kalau bisa Bapak membatalkan acara khitbah yang dihotel itu, dikarenakan tiket pesawatku untuk keberangkatan dua hari yang akan datang hilang, dan aku mendapatkan tiket pengganti dengan tanggal keberangkatannya bertepatan dengan hari berlangsungnya acara khitbah itu!”

Aku dapat menangkap kekecewaan bapakku, lewat desahan nafasnya ditelepon. Beberapa menit kemudian aku berusaha meyakinkan agar usulan pembatalan acara itu beliau terima. Akhirnya orang tuaku mengabulkannya juga. Kuletakkan gagang telepon, dan akupun duduk kembali.



* * *

Selesai mandi dan sarapan pagi aku membaca buku muqarrar sambil menikmati kaset nasyid oleh-oleh mahasiswa baru yang dari Indonesia. Lagu “Mata Hati” yang disenandungkan oleh group Hijjaz sedikit menyejukkan jiwaku. Angin musim dingin yang menyelinap lewat jendela kamarku, membuatku menggigil. Lembar demi lembar muqarrar ini aku tarhiz. Tiba-tiba teman-teman kamar sebelahku berdatangan mereka bercanda kepadaku padahal saat ini aku butuh akan ketenangan.

“Wah, lagi ngapain nih? Baca atau ngelamun? ‘Ntar juga ngalaman?” sapa temanku, Edi Mulyadi orang asli sunda. Aku pura-pura tidak mendengarnya. Selanjutnya Abdul menambah,

“David, gimana proyek khitbahmu, jadi ngga?”

“Iyya, kalau dibiarkan lama-lama nanti ada yang nyerobot lho!” Seloroh temanku Okki yang asli Jakarta ikut nimbrung. Lagi-lagi aku tidak bergeming, aku terus membaca. Lama-kelamaan aku menjadi pusing juga dengan gurauan mereka. Aku takut diriku menjadi emosi seperti kepada sepupuku kemarin. Aku harus cepat menghindar dari mereka, aku harus keluar rumah. Hanya saja aku bingung tujuannya kemana. Dalam kebingungan itu, aku ingat rencana Ridwan bahwa hari ini ada acara rekreasi ke Qanathir.

Tanpa ba-bi-bu lagi, aku keluar kamar untuk menuju rumah Ridwan, dan kulihat teman-temanku heran atas kepergianku.



* * *



Ba’da shubuh, sebagaimana biasanya aku membaca Al Qur’an. Tapi belum juga habis satu lembar kubaca, mataku sudah terasa berat sekali. Dan satu-satunya obat hanyalah tidur. Ternyata istirahatku tadi malam belum cukup membayar rasa capekku setelah pulang rekreasi dari Qanathir kemarin.

Dasar godaan syetan, membaca Al Qur’an ngantuk. Tapi setelah dibaringkan, bukannya langsung tidur tapi aku malah teringat kejadian di Qanathir. Maksud hatiku berekreasi ini untuk mencari ketenangan diri, tapi ternyata hanya kekesalan yang aku dapatkan. Aku kesal melihat kehidupan remaja-remaja Mesir. Mereka sudah terlalu bebas dalam bergaul antar lawan jenis. Semakin tua peradaban yang mereka miliki, tidak menjadikan mereka lebih menghargai nilai-nilai akan kehormatan seorang manusia. Justru sedikit demi sedikit mereka mulai berkiblat ke Barat, aku terus merenung, sehingga tidak ingat apa-apa lagi.



* * *



Dalam sebuah ruangan, tepatnya ruang tamu, aku beserta kedua orang tuaku duduk berhadapan dengan keluarga teman bapakku ketika dulu sama-sama berjuang di KAPPI. Teman bapakku itu tidak lain adalah calon mertuaku. Kehadiran kami adalah untuk mengkhitbah putrinya. Setelah beberapa saat berbasa-basi dan bernostalgia bapakku membuka pembicaraan kepada calon mertuaku:

“Saudaraku, Akhdiat, pepatah telah mengatakan,sudah dipaku diikat pula, artinya selama ini kita telah dipaku dalam jalan perjuangan yang sama. Agar supaya ukhuwwah diantara kita menjadi lebih kokoh, maka alangkah baiknya kalau kita diikat pula. Dan sebagai tali talinya adalah hubungan besan diantara kita, oleh karena itu aku berniat mengkhitbah putrimu, Nurul Sakinah, untuk mendampingi hidup putraku, bagaimana?”

Suasana menjadi hening, aku lihat Bapak Akhdiat, calon mertuaku itu melirik ke istrinya sambil tersenyum. Aku tak sabar mendengar jawabannya.

“Ibarat bumi menerima air hujan, Alhamdulillah dengan senang hati kami menerima maksud saudara!” Sebuah jawaban yang singkat terluncur dari mulut Bapak Akhdiat. Ada rasa  gembira terjelma dalam sanubariku saat lamaranku diterima.

Setelah itu orang tuaku bersama dengan calon mertuaku membicarakan hari pernikahanku. Sedangkan aku hanya menjadi pendengar yang budiman. Selain kedua calon mertuaku didepanku duduk calon istriku. Wajahnya memancarkan ketenangan sesuai dengan nama yang ia miliki, Nurul Sakinah. Ia seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung yang sekarang sedang menyusun skripsinya. Mataku meliriknya, dan hatiku pun bergetar kala memandang wajahnya. Hidungnya mancung, mata beningnya menyimpan berjuta pesona, alisnya laksana iringan semut, bibirnya yang merah merekah bersih tidak terpoles oleh lipstik, dagunya ibarat lebah bergantung, kulitnya halus laksana sutra, dan kecantikan itu semakin sempurna setelah dibungkus jilbab merah jambu yang dipadukan dengan jubah ungu yang ia kenakan. Dalam hatiku berkata, ”Seandainya calon istriku ini memakai perhiasan dari kristal asli dari Asfour Mesir, pasti kecantikannya akan mengalahkan ratu kecantikan sedunia tahun ini, Larra Dutta yang asli India!”

Lamunanku buyar tatkala orang tuaku bertanya kapan aku kembali ke Mesir, karena aku masih harus menyelesaikan tiga mata kuliah yang tersisa.

Belum juga aku jawab, sekonyong-konyong aku merasa ada tangan yang menggoncangkan tubuhku. Ternyata aku bermimpi, aku mengocek-ngocek mataku. Samar-samar kulihat sepupuku berdiri didepanku dengan membawa koran Al Ahram.

“David, lihat nih berita, pesawat KU 414 yang seharusnya kamu tumpangi kemarin, meledak diperairan Malaysia!” Mujahid memberitahukan.

“Hah, yang benar aja!”

“Benar, lihat ini!”

Aku segera meraih koran itu dan langsung membaca berita yang ditunjukkan sepupuku. Kueja huruf demi huruf, sampai akhirnya berita itu rampung kubaca. Bersamaan dengan itu, aku merasa sangat malu kepada Allah SWT mengingat sikapku dua hari yang lalu, aku seolah-olah tidak meyakini akan taqdir Allah SWT. Ternyata empat tahun belum cukup, menjadi anak panah Azhary yang siap mengarungi samudra ujian.

Juga aku merasa bersalah dan berdosa atas sikapku terhadap sepupuku. Aku langsung memeluknya. Tak terasa butiran air mata mengalir dipipiku.

“Mujahid nasehatmu benar, ma’afin aku yach, aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi bila tiket pesawatku tidak hilang!”.

Ia menjawabku dengan sebuah senyuman, akupun memaksakan diri untuk tersenyum. Dan aku benar-benar tersenyum, ingat akan mimpiku yang terputus. Kemudian ku berbisik dalam hatiku: “Kupinang engkau dalam mimpi!“.

* * *



ANAK GAUL


ANAK GAUL



Aku berhenti didepan rumah megah ala Spanyol, lebih tepat disebut istana dibanding rumah. Kedua kakiku tak mau lagi melangkah  sebelum ada perintah dari otakku. Aku minta fatwa dari hati nuraniku. Aku bimbang  antar terus masuk atau kembali pulang. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sapaan.
            “Eh den David, kok bengong saja, mari masuk!” sapa Pak Bendot membuyarkan percakapan dalam sanubariku. Senyum tulus dari penjaga gerbang pintu ini membuat keputusan yang kuambil melangkah masuk. Sambil menutup pintu gerbang pak Bendot kembali berkata:
“Den David, sudah lama engga kesini, cari den Rudi ya?”
             “Iyya mang, Rudi ada?”
            “Ada, barusan juga teman-temannya datang, sekarang mereka ngumpul di paviliun!”
            “Terima kasih mang!” jawabku dan melangkah menuju paviliun. Ruangan ini adalah base camp gengku. Aku dan teman-temanku setahun yang lalu tepatnya malam tahun baru 2000 saat orang lain hingar-bingar merayakan milenium ketiga, kami juga! Tepat pukul 00.01 dini hari dipaviliun meresmikan nama geng kami yaitu GF3. Bukan gudang filter3 lho! Tapi singkatan dari Geng Family 3. Dan kata sendiri family kepanjangan dari Fungky Anak gaul Milenium 3. Tak terasa aku sudah sampai didepan pintu dalam hati aku berkata:
            “Bismillah, ya Allah kuatkan hati hamba!”  kemudian memencet bel.
   “Teeet …tett …teeett!” suara bel memecahkan keheningan. Aku menunggu. Terdengar ada yang melangkah dan memutar gagang pintu. Lalu membukanya, bersamaan dengan itu aku mengucapkan salam:
            “Assalamu`alaikum …!”
            “Kum salam, wah .. ada perubahan nih, rada-rada nyupi,  masuk!” Rudi tersenyum dan langsung masuk. Disana teman-teman yang lain sudah pada ngumpul.
                “Wah bos, baru kelihatan batang hidungnya, kemana aja sih?” tanya temanku, Tomi. Tapi kami sering memangggilnya si Tompel. Disebelahnya ada simbed, panggilan untuk temanku, Alex. Soalnya ia rada mirip dengan Sinbad, tapi cuma rambutnya saja, ia tidak ketinggalan berkoar:
            “David, lu semedi dimana sih? Setiap gua cari waktu istirahat disekolah, lu kagak ada, temen-temen lu bilang, lagi shalat du…duu.., apaan tuh, duaaan kali yah???”
“Bukan shalat duaan, tapi shalat Dhuha!” aku memotong perkataan Alex. Kemudian ia mulai berkata kembali:
“Beberapa kali gua telpon kerumah lu, lagi-lagi lu nya kagak ada, terus yang ngangkatin telponnya kayaknya orang baru dirumah lu, siapa sih?”
            “Ooo...itu kakak tertuaku baru pulang dari Mesir!” Aku memberitahu Alex.
            “Enak dong, pasti bawa piramida!” Tomi mulai ngebanyol.
“Ho-oh, bawa sungai Nil segala!” jawabku berkelakar. Aku duduk disofa didepan teman-temanku. Dihadapanku, selain Rudi, Alex, dan Tomy, juga ada Karmila, Ririn, dan Dewi. Aku ngambil nafas sebentar, dada ini aku mangfaatkan untuk menenangkan diri. Setelah dadaku agak lapang, aku mulai berbicara:
            “Gimana teman-teman sehat semuanya yah?”
“Emangnya boss udah jadi dokter, pakai acara tanya kesehatan segala!” temanku Tomy, kembali mengeluarkan plutonya, alias platak pletok tololnya.
            Temen-temenku banyak bercerita tentang apa yang mereka lakoni selama aku tingalkan sebulan lebih. Dari mulai menjahili temen-temen dan guru dikelas, tawuran, transaksi obat-obatan terlarang, ngokar cimeng, mejeng dimall, chatting di kafe gaul, bikin bahasa gaul, bintang musik, dan laen-laen, aku hanya menjadi pendengar budiman alias kambing congek, aku berusaha memahami dan mengerti dalam pemikiran mereka. Tibalah giliranku untuk berbicara:
            “Teman-teman aku datang kesini tidak akan banyak cerita seperti kalian, aku hanya ingin minta izin keluar dari genk kita!”
“Haaah, apa gua kagak salah dengar nih??? “ Rudi menanggapi pernyataanku sambil memegang telinganya. Aku diam sejenak, temen-temenku saling berpandangan, dimata mereka, aku menangkap ketidak percayaan dan tanda tanya.
“Yang bener aja nih?” Karmila  ikut berkomentar, dan disambung oleh Dewi yang sejak tadi diam melulu, ia mulai berkomentar: ”Emangnya, ada apaan sih, Vid ?”
“Tidak ada apa-apa kok!”
“Ya setidaknya ada alasan atau asal-usul kek, masa tak sebabnya!” Dewi meneruskan pembicaraannya. Aku membisu, suasana menjadi hening, dalam hatiku kembali berperang. Haruskah aku menceritakan sebenarnya dan mendapat tertawaan dari teman-temanku atau no comment aja? Dilubuk hatiku terjadi tawar  menawar, tiba-tiba aku teringat dengan semboyan hidupku, berlayarlah anda disamudra kejujuran, pasti anda akan berlabuh di didermaga kebahagian. Aku harus terbuka kepada mereka, tak ada untungnya aku berdusta apapun yang akan terjadi, itu sebuah resiko yang aku terima.
“Bagaimana teman-teman, tadi sudah aku bilang bahwa kakak tertuaku sudah pulang dari Mesir, kehadirannya memberikan hidayah kepadaku. Dan aku mulai menemukan jati diri dan hakikat hidupku, ternyata selama ini aku melangkah pada jalan yang salah, aku berusaha memperbaiki diri!” aku mengemukakan alasan kepada mereka.
“Oke, alasan lu kita hargai, tapi bukan begitu caranya, itu namanya egois, akan kah kebersamaan yang selama ini kita jalani bubaran begitu saja? Apalagi lu sebagai kepala dan vokalis digroup band kita!” Rudi menyodorkan alasan keberatan kepadaku, guratan mukanya menandakan ia sedang emosi, dan aku paham yang ia rasakan, meskipun kami kumpulan anak-anak badung dan ugal-ugalan, tapi dalam hal kebersamaan, aku acungkan jempol. Dengan tujuh personil kami membentuk group band yang bisa diandalkan. Group band kami di beri nama “ ANAK GAUL BAND” Rudi pegang bass, Tomy pegang melodinya, Alex pada drum-mer, dan Ririn spesial keyboard. Adapun aku bersama karmila sama Dewi pegang microphone alias vokalisnya. Aliran musik kami gado-gado ada rock, jazz, pop, dangdut, dan musik alternatif.
“David, lu tega banget kalau sampai ninggalin geng kita, untuk memperbaiki diri itu memang hak lu, kami kagak melarang!“ Alex ikut menambahkan. Aku semakin terpojok, aku dapat mendengar suara batin mereka, aku serba salah sampai kami bubar belum ada kata  sepakat, mereka tidak mengizinkanku. Aku minta waktu hingga besok untuk mempertimbangkannya.
****
“Begitu ceritanya kak, satu sisi dedek pengen ngejalanin ajaran Islam secara kafah, namun disisi lain dedek tidak mau mengecewakan teman-teman, jadi gimana nih?“ aku meminta pendapat, setelah aku menceritakan kejadian dirumah Rudi kepada ketiga kakaku. Satu persatu-satu kulemparkan pandanganku diwajah mereka. Aku ingin tahu reaksi mereka, ada rasa lega hinggap direlung hatiku, aku sudah curhat kepada mereka, ini kami lakukan setiap malam minggu, kami saling menceritakan pengalaman selama seminggu, kami mendiskusikan dan mencari solusi dari setiap persoalan yang kami hadapi. Acara ini kami sebut “makom Hati” akronim dari “malam komunikasi hati”.
“Kalau  menurut Teteh, dedek harus menjauhi teman-temanmu itu, soalnya kalau tidak, ntar virus penyakit ugal-ugalanmu kambuh. Jadi hubungan kamu harus diamputasi!” Tetehku Setia Maulani, mengeluarkan ilmunya. Ia calon dokter  yang sekarang lagi nyusun skripsi di fakultas kedokteran UNPAD Bandung. Tak berapa lama kemudian teteh keduaku, Nurul Fathanah, Mahasiswi fakultas Teknik Pertanian IPB tingkat dua memberikan saran:
“Teteh sepakat dengan teh Tia, dari pada capai sendiri mendingan tinggalkan aja, kalau dedek masih bersama mereka, itu sama saja membiarkan benih kejelekan tumbuh didalam hati dedek, apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai, bukankah kita hasil bentukan dari lingkungan kita?”
Pendapat kedua tetehku berusaha kucerna. Setelah aku kunyah dalam otakku, aku mengerti maksud mereka. Namun aku belum puas, sebelum mendengarkan petuah dari kakakku Mujahid Helmi. Ia alumnus universitas  Al-Azhar kairo Mesir jurusan aqidah filsafat.
“Kak Helmi, kok diam saja!” aku merajuk kepadanya.
“Tanpa bermaksud menolak pendapat kedua tetehmu, kakak punya paradigma sedikit berbeda. Sebenarnya teori kedua tetehmu benar bila posisi kita dalam keadaan lemah, akan tetapi sebaliknya bila kita kuat, dalam puisi Muhammad Iqbal disebutkan, orang yang kuat akan membentuk lingkungan, bukan dibentuk oleh lingkungannya, untuk melaksanakan Islam secara kafah, tidak harus memutuskan tali silatur rahmi sesama manusia, apa lagi ia muslim, bukankah pemutus kasih sayang adalah ahli neraka? Justru temanmu menjadi ladang dakwah bagi dedek, pokoknya dedek harus mampu mewarnai mereka!”
Kemudian panjang lebar kak Helmi menjelaskan persoalan berdasarkan al-Qur’an dan al-Hadits. Uraiannya benar-benar memuaskan otak, menentramkan hati, dan mendamaikan jiwaku. Syaraf-syaraf kusut dikepalaku, perlahan-lahan mulai terurai. Mata air dilembah hatiku kembali memancarkan semangat hidup. Kegersangan jiwaku tersiram oleh derasnya nasehat kak Helmi, kebingunganku hilang entah kemana .
****

Keesokan harinya aku langsung menuju rumah Rudi, hatikecilku mengatakan bahwa teman-temanku sudah pada ngumpul disana, ternyata dugaanku tepat, sesampainya ditengah-tengah mereka, aku mulai berkata:
“Teman-teman! Setelah melalui pertimbangan masak-masak, aku memutuskan untuk tetap bersama kalian!”
“Horeeee…hidup David..!!!" teriakan teman-temanku bersamaan, kompak banget.
“Tapi……..ada syaratnya…!”
“Huu……!” suara koor mereka mengubah pavilium menjadi ramai.
“ Tenang-tenang…….! Syaratnya tidak berat kok, yaitu kita ganti nama geng kita, kalau tidak, aku kembali kepada opsi pertama, aku cuti alias mengundurkan diri!” Lanjutku sedikit ngancam.
Temanku langsung kasak-kusuk. Terjadi lobi-lobi diantara mereka kayak Pansus Bullogate di DPR saja. Akhirnya secara aklamasi mereka sepakat dengan usulan penggantian nama. Tanpa banyak membuang waktu kami langsung menyelenggarakan sidang istimewa. Setelah melalui rapat yang cukup alot dan seru sekali, kami sepakat memunculkan nama baru yaitu AMIS’C 2001, singkatan dari Amanah Islamic Studen’t Crew 2001. Kata Amanah, selain diambil dari sifat Nabi Muhammad Saw, merupakan singkatan dari visi dan misi organisasi baru yakni: Ayo menuai Mardhatillah dengan menabur benih-benih rahmat dan manfa’ah. Sedangkan kata Crew adalah sebuah cita-cita kami ingin menjadi awak kapal masyarakat pelajar dalam pencarian jati diri mereka.
****
“Braaaaaak….!!!”
Aku membuka pintu rumah dengan seragam putih abu-abu, aku masuk ke rumah slonong boy.
“Aduh…..dedek koq nggak ngucapin salam?“  tegur kak Helmi yang sedang membaca al-Qur’an diruang tamu. Spontanitas aku kembali ke luar dan mengucapkan salam.
“ Ma’afin dedek ya kak, dedek sekarang lagi pusing!” aku berusaha menerangkan letak persoalan.
“Adakah yang bisa kakak bantu?” tanya kak Helmi hati-hati. Tanpa menunggu waktu lama aku langsung mengeluarkan uneg-uneg menggunung dihatiku. Kata-kata mengalir bagaikan mata air keluar dari mulutku.
“Kak, gimana dedek tidak kesal, sudah sebulan lebih dedek berusaha mengarahkan teman-teman, tetapi hasilnya seperti nihil, belum ada perubahan yang begitu berarti, bayangin aja kak, beberapa minggu yang lalu, saat digedung DRR/MPR RI ribut-ribut tentang penurun Gusdur, eh temen-temen ikut-ikutan juga memobilisasi siswa-siswi disekolah dedek untuk berdemonstrasi, masih untung demonya bukan untuk nurunin kepsek, tapi mereka meminta agar bel sekolah diganti aja katanya dengan suaranya bel tukang jualan es cream Wall’s. Terus tiap jam sebelum masuk, istirahat, dan jam pulang, speaker inti dikantor, tepatnya diruang TU, boleh diaktifkan untuk memutar lagu-lagu yang dipesan, seperti lagunya Dewa 19, Padi, sheilla on 7, Base jam Westlife, dan ska.Bahkan juga lagunya silucu Sherina, alasan mereka ingin amalin konsep Quantum learning, biar belajarnya lebih relax dan Fresh. Dan lebih heboh lagi,tuntutan agar mengecat kelas sendiri-sendiri. Sekolah mengabulkannya, hanya saja pihak  sekolah tertipu, dikiranya akan dicat warna putih atau  gading. Ternyata warna yang di pilih bermacam-macam ada biru, kuning, dan sebagainya. Guru mau marah terlambat, sebab untuk mengecat ulang perlu dan besar, apa lagi sekolah sedang memperbaiki fasilitas air dan jamban. Akhirnya, ikhlas aja lah ………dan siswa pun senang.
Cuma gara-gara itu semua, dedek kena getahnya, sempat diciduk dan ditanya sama Kepsek juga ketua OSIS, mereka nyangka dedek sebagai dalang dari semua itu, siapa yang kagak gondok !
Dan menyedihkan lagi, kejadian hari ini, ya mungkin karena kebanyakan anggotanya mantan anak-anak gaul, tadi pulang sekolah, dedek ketemu anggota baru, kepergok jalan ama temennya yang teler. Waktu temannya tripping itu dedek tanya, dibilang dapat obat dari si anggota baru. Terus dedek tanya anggota baru itu. “ kamu pengguna ya ?” Eh dengan enteng dan kayak tidak punya salah anak tu menjawab: “ Sumpah kak, saya bukan pengguna, cuman pengedar aja!” Astagfirullah, gimana nggak ngeri kak? Jika ini merambah ke teman yang lain atau berita ini terekspos keluar, muka dedek mau ditaruh dimana, tapi alhamdulillah, tuh anak sudah janji tidak mau ngulangi lagi, lalu apa yang harus dedek perbuat kak?“  tanyaku mengakhiri curhatku itu.
“Benar-benar anak gaul, bagus……..bagus……!”
“Lho Kok, kak Helmi bilang bagus sih?” Aku jadi penasaran. Tak berapa lama kakakku melanjutkan perkataannya:
“Ya memang bagus, bukankah teman-teman dedek itu musikus mania, kenapa tidak dedek dakwahin lewat musik, bentuk aja tim nasyid, insya allah ada teman kak Helmi yang siap melatihnya “.
“ Yess………!” aku mengacungkan tangan ala ekstra joss. Jawabannya aku temukan. Aku ucapkan terima kasih kepada kakakku diiringi sun sayang yang mendarat di pipinya, yang di sun cuman geleng-geleng kepala.
****
Alhamdulillah, teman-temanku sudah banyak perubahan, setidaknya dari gaya berpakaian, rambut, bicara dan bergaul sudah mulai sopan. Ini semua gara-gara kami sering manggung di berbagai acara.
Grup Nasyid kami beri judul “ SNAKDUT AMANAH “, namanya aneh khan ? Akan tetapi itu hasil mikir lho! Ada yang nyangka SNAKDUT itu pengertian dari ular kadut, nah lho, kejam banget ding! Katanya Snak berarti ular dan Dut nya dari kata kadut, sedangkan Amanah itu artinya orang yang terpercaya. Berarti ular kadut yang dapat dipercaya. Padahal, SNAKDUT itu kependekan dari “ Senandung Nasyid Komtemporer plus Dangdut” maklum komposisi musik kami belum nasyid beneran. Biasa alasannya, supaya gaul dan musiknya khan rada-rada rame. Ada guitar, dram, keybord, kendang, rebana, kecrek, beros, tam-tam, dan kadang apa saja yang bisa ngeluarin suara nge-pas. Terkadang juga pake piring, panci, kaleng, botol dan beduk. Tuh gila khan anak! Dasar anak gaul! Kataku dalam hati.

****