Ibu
Penjual Tempe
Ketika
hanya tinggal doa yg dpt kita lakukan….
old lady
Pagi yang cerah, ketika saya
mendapat cerita ini dari seorang sahabat. Cerita yg mencerahkan. Saya menahan
air mata ketika membacanya, juga menahan tawa. Saya tersenyum sambil meresapi
isinya setelah membaca, dan berharap kalian – wahai sahabatku – ikut tersenyum
setelah membacanya.
Yakinlah Sang Maha Penyayang selalu
ada disetiap langkah mu

——-
Di Dharmasraya, hiduplah seorang ibu
penjual tempe.Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung
hidup.Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani
hidup dengan riang. “Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku
harus menyesalinya. ..” demikian dia selalu memaknai hidupnya.
Suatu pagi, setelah salat subuh, dia
pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe, dia berjalan ke dapur.
Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang. Tapi, deg!
dadanya gemuruh.Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa
kacang kedelai, sebagian berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas
dari peragian.Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi.
Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang,
untuk makan, dan modal membeli kacang kedelai, yang akan dia olah kembali
menjadi tempe.
Di tengah putus asa,terbersit
harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang
mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. “Ya
Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang
hina ini.Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe. Hanya
kepada-Mu kuserahkan nasibku…” Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan
doanya.
Dengan tenang, dia tekan dan
mampatkan daun pembungkus tempe. Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu.
Proses peragian memang masih berlangsung. Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka
daun pembungkus tempe. Dan… dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah.
Kacang kedelainya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan
memaksa senyum, dia berdiri. Diayakin, Allah pasti sedang “memproses” doanya.
Dan tempe itu pasti akan jadi.
Dia yakin, Allah tidak akan
menyengsarakan hambanya yang setia beribadah. Sambil meletakkan semua tempe
setengah jadi itu ke dalam keranjang,dia berdoa lagi. “Ya Allah, aku tahu tak
pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau Maha Tahu, bahwa tak ada yang bisa aku
lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah.Bantulah aku,
kabulkan doaku…”
Sebelum mengunci pintu dan berjalan
menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe.Pasti telah jadi sekarang,
batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan… belum jadi. Kacang
kedelai itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian
kacang kedelai tersebut. “Keajaiban Tuhan akan datang… pasti,” yakinnya.
Dia pun berjalan ke pasar. Di
sepanjang perjalanan itu, dia yakin, “tangan” Tuhan tengah bekerja untuk
mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia
memanjatkan doa… berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan
doanya.
Sampai di pasar, di tempat dia biasa
berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu. “Pasti sekarang telah jadi
tempe!” batinnya. Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu,
pelan-pelan. Dan… dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama
seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi.
Air mata menitiki keriput pipinya.
Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi? Apakah Tuhan ingin
aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk.
Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe
setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak
ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa
lapar…merasa sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku, batinnya.
Airmatanya kian menitik. Terbayang
esok dia tak dapat berjualan… esok dia pun tak akan dapat makan. Dilihatnya
kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan “teman-temannya” sesama penjual
tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang
pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak. Diingatnya, tak
pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian
keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat…
Di tengah kesedihan itu, sebuah
tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik,
paro baya, tengah tersenyum, memandangnya. “Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang
setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang
menjualnya. Ibu punya?”
Penjual tempe itu bengong.
Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik
tadi, dia cepat menadahkan tangan. “Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe
itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu
seperti tadi, jangan jadikan tempe…” Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi,
setengah ragu, dia letakkan lagi. “jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe…”
“Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe
setengah jadi?” tanya perempuan itu lagi.
Kepanikan melandanya lagi. “Ya
Allah.. bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?” ucapnya
berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe
itu. Dan apa yang dia lihat, sahabat?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat
tempe yang masih sama. Belum jadi! “Alhamdulillah!” pekiknya, tanpa sadar.
Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli.
Sembari membungkus, dia pun bertanya
kepada si ibu cantik itu. “Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?”
“Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya,
si Shalauddin, yang kuliah S2 di Australia
ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi, saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Oh ya, jadi semuanya berapa, Bu?”
ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi, saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Oh ya, jadi semuanya berapa, Bu?”
Sahabat..selamat memaknai cerita
ini…….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar